Oleh: ankamal | April 8, 2010

JERIT YANG SLALU ADA

Riak menggemuruh seantero pandang tak terbatas,
Kekaguman nampak bahkan pujian pun tak surut terlontar
S’lalu menjadi buah bibir bahkan rasa penasaranpun menguak
Hingga tak ayal mengeksplor semua yang mungkin tergali

Sebuah kemunafikan diri ataukah seekor anak ayam yang kehilangan induknya?
Pencarian ketenangan bathin ataukah hasrat yang s’lalu tak mampu dapati mimpi?
Keangkuhan yang mengaharap uluran ataukah hina yang menanti belas kasihan?
Tertunduk dalam hening, nyatanya jerit yang terasa.

Apakah diri ini benar-benar t’lah kehilangan tongkat,
Tak mampu berpegang pada kemampuan ciptakan dunia?
Ataukah memang sebuah roman picisan mengiba kasih dalam genggaman?
Nyatanya jerit yang terkuat dalam kelemahan tak berdaya.

Andaiakan rel-rel yang terus menghubungkan jalan ini harus berliku,
Terhempas beban kendaraan hilir mudik dalam laju kemudahan.
Adalah pelumas yang mencoba sirami kesat langkah yang semakin berat
Meberi dorongan tak henti berharap mampu tempuhi pantai harapan.
Nyatanya jerit s’lalu menggema tiada henti.

Sebuah kesadaran yang terabaikan,
Sebuah keluh yang terus tertanam.
Sebuah kepedulian yang tersembunyi.
Sebuah jerit yang s’lalu ada.


Responses

  1. mantab!
    salam kenal aja ya mas.. dan buat teman2 salam sukses selalu..

    • Syukron, salam balik ya!
      makasih juga dah mampir.

  2. like brow


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: