Oleh: ankamal | Januari 1, 2010

Kesetiaan dan ketulusan (Suamiku)

Kisah ini merupakan kisah nyata curahan hati dari salah satu teman saya (buat yg ngerasa maksih ceritanya dan izin publikasinya). Maksud baiknya adalah memberikan pelajaran buat kita akan sebuah kesetian dan ketulusan nyata. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.
Sudah siap membaca ceritanya? tarik nafas dulu biar hidmat..hehe..

________________________
Lima tahun lalu tepatnya saat aku masih SMP, kelas 3 waktu itu, aku mencintai seseorang. Ali namanya,singkat cerita kita berpacaran dua hari setelah ultahku yang ke-15, mas Ali biasa kusebut begitu, kita selisih umur 10 tahun, ya… memang jauh, tapi tak mengapa bagiku karena aku mencntainya.Cinta memang buta tak mengenal usia, dia bukan penggangguran, melainkan perantau yang memiliki penghasilan, dia taat beribadah, rajin, rapi bersih, wangi, dan lembut, sudah cukup bagiku.
Setelah 3th berpacaran dengan komunikasi jarak jauh, karena hubungan kita terpisah jarak, antar kota bahkan sempat antar pulau
terakhir mas Ali merantau ke Poso Sulteng, setahun disana & pulang saat aku selesai sekolah,sering kerikil-kerikil kecil menyandung hubungan kami, kami pun sempat putus, boleh dibilang aku menghianati hubungan kami, tapi kata putus itu hanya mampu memisahkan kami s’lama 3 hari, karena cinta kita bersatu kembali.
Setelah selesai sekolahku, mas Ali pulang untuk melamarku (ket. kami orang satu kampung). kuterima & kami menikah pada 21 Juni 2008, seminggu setelah pengumuman kelulusanku. memang gila tapi apa mau dikata, aku tidak bisa bila harus melihatnya meninggalkan ku, cinta memang gila.
Aku sadar bahwa aku melakukan hal bodoh, karena saat melewati hari-hari tanpa cinta dari mas Ali aku merasa sakit sendiri, memang kita putus karena aku menghianati logikanya mas Ali yg sakit hati tapi kenyataanya aku yang merasakan sakit,” satu hal lagi, karena keluarga kita masing-masing sedah tau hubungan kita, orang sekampung & semua orang yang mengenal aku & mas Ali, tanpa terkecuali, bahkan orang yang membuat aku berkhianat pun mengetahuinya.
Sebulan setelah menikah, yaitu akhir bulan Juli, aku dibawa suamiku ke Poso, karena suamiku mencari nafkah dikota itu sebagai teknisi hp. Akupun melakukan perjalanan jauh dari kota Sukoharjo, Solo Jateng hingga Poso Sulteng, naik travel selama 5-6 jam untuk kebandara Yuanda Surabaya. Sudah melelahkan bagiku belum ditambah perjalanan mgengunakan pesawat yang menghabiskan waktu 3-4 jam waktu itu, itupun baru sampai di Palu untuk menuju kota tujuan yaitu Poso harus menggunakaan travel lagi dengan perjalanan 5 jam dengan medan yg ditempuh, gunung, tebing & hutan. Hal itu menbuatku sangat cape & betul-betul menghabiskan tenaga karena sebelumnya aku memang tidak pernah mlakukan perjalanan jauh.
Peerasaan….. senang karna pacarku yang dulu memiliki tanggungjawab & keberanian.
sedih saat didlm pesawat yamg siap lepas landas, karena aku akan pergi jauh dari orang-orang terdekatku, yang selalu bersama s’lama 18th, orang tuaku & keluargaku, tapi semua itu terhapus dengan ketulusan yang suamiku berikan.
Saat sampai di Poso, pagi harinya saat aku sedang buang pup di wc, aku pingsan karena yang aku rasakan hanya sakit diperut & tidak ada yang aku keluarkan. Disitulah awal semua ceritanya,
karena tubuhku lemas & tidak kuat berdiri suamiku yang menggendong hingga memandikanku. yang lebih membuatku menangis terharu adalah, sakitku selama 7 hari, disitu aku tidak bisa bangun dari tempat tidur, membuka mata saja sakit rasanya, yang paling parah, aku tdk bisa berjalan ke wc untuk buang hajat, akhirnya s’lama 5 hari aku buang air ditempat tidur, dikasih masuk makanan muntah, minum muntah, betul-betul sakit terparah yang pernah aku rasakan, namun walau keadaanku begitu suamiku tetap setia menemani & memberi semangat unttk sembuh, suamiku dengan sabar merawatku, dia yang membersihkan celana bekas buang hajatku, membersihkan sprai, memandikanku mengangkat aku dari laintai ke lantai bawah utk membersihkan tubuhku, aku betul-betul seperti bayi yang tidak bisa apa-apa. Setiap waktu shalat tiba suamiku selalu mengajak shalat berjamaah, walau aku tidak bisa berdiri.
Bayangkan , pengantin baru, seharusnya aku yang memanjakan suamiku dengan tanggungjwbku sebagai istri tapi malah sebaliknya, dia memberikan sesuatu yang tak pernah aku fikirkan, kesetiaan & kesabaran yg luarbiasa, ada sesal karna dulu aku pernah menyakitinya, dan kini dia telah membuktikan ketulusannya,
Terimakasih Yaa Alloh, karna Engkau telah memberikanku seorang pendamping yang mampu betul-betul menjadi imamku, terimakasih karena Engkau menyatukan kami berdua, & atas segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku, aku tidak akan pernah menyianyiakannya(suamiku).

Harapan : pertama i love you buat suamiku tercinta,
kedua, kita dr depan emang sdh komitmen utk tdk memiliki momongan dl, hingga usia perkawinan kita 2th ato kata lain kita pingin bulan madu selama 2th h h h h
kini sdh sukses selama 18bln tingal beberapa bulan lg, & insyaalloh th dpn kita siap serius bikin baby, jd semoga Alloh memberikan kelancaran, amiin….
(umur 22 aku pnya ank, brarti suamiku 33th, dg begitu aku tdk akn egois memikirkan kesenanganku sndiri)


Responses

  1. cerita yg nyata,, tapi dalam cerita itu aku blum menemukan cerita dmana pghkianatan yang blum jelas karena cerita dengan akhir yang bahagia itu terlalu singkat mungkin,,
    aku tunggu cerita2 yang terbaru dan lebih menggugah hati pembacanya,, dan kalau boleh aku tunggu cerita seperti hal’y ksh nyata yang tertulis dlm buku ” pudarnya pesona cleovatra”.. kalua ga salah nulinya gtu,,, he,,he,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: